
Untuk membaca kapasitas udara kawasan sebelum aktivitas industri makin padat
Kawasan industri yang berkembang cepat biasanya menghadapi pola yang sama: tenant bertambah, aktivitas naik, sumber emisi ikut bertambah, lalu muncul pertanyaan yang makin sering dibahas di internal.
Pertanyaan seperti ini tidak cukup dijawab dari hasil uji emisi satu per satu. Di lapangan, udara tidak “membaca” data per tenant. Yang terjadi adalah gabungan dari banyak sumber emisi, lalu dipengaruhi arah angin, musim, dan lokasi permukiman di sekitar kawasan. Karena itu, yang dibutuhkan adalah kajian yang melihat kondisi udara secara utuh.
Kajian Daya Dukung Atmosfer ini digunakan untuk membaca kondisi eksisting, memproyeksikan dampak pengembangan, dan menentukan langkah pengendalian yang lebih masuk akal sebelum masalah muncul. Kerangka umumnya selaras dengan payung UU No. 32 Tahun 2009 tentang PPLH dan pengaturan teknis lingkungan dalam PP No. 22 Tahun 2021.
Di banyak diskusi teknis, fokus sering berhenti di angka emisi cerobong. Padahal yang dinilai dalam kualitas udara kawasan adalah dampaknya di udara ambien, bukan hanya angka di sumber. Artinya, hasil uji emisi cerobong tetap penting, tetapi belum cukup untuk menjawab:
Untuk itulah hasil kajian harus tetap dibaca terhadap Baku Mutu Udara Ambien Nasional dalam Lampiran VII PP No. 22 Tahun 2021, yang memuat parameter seperti SO₂, CO, NO₂, O₃, PM10, dan PM2.5 beserta waktu pengukurannya.

Apakah istilah “Kajian Daya Dukung Atmosfer” masih terasa asing? Wajar, karena di lapangan penyebutannya memang cukup beragam. Anda mungkin lebih sering mendengar istilah seperti berikut:
Istilahnya bisa beda, tetapi kebutuhan utamanya sama: menghitung kapasitas udara kawasan secara menyeluruh sebelum pengembangan berjalan terlalu jauh.
Di kawasan yang tenantnya terus bertambah, pembahasan kualitas udara tidak bisa hanya pakai feeling. Atmosfer memang bisa menerima emisi, tetapi bukan tanpa batas. Saat sumber emisi makin padat, ruang aman kualitas udara akan semakin sempit.
Di titik tertentu, tambahan satu sumber baru saja bisa berdampak besar—apalagi kalau lokasinya dekat permukiman, sekolah, tempat ibadah, atau fasilitas kesehatan. Karena itu, Kajian Daya Dukung dan Daya Tampung Udara dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan yang sangat praktis:
Kalau belum dihitung, keputusan pengembangan biasanya hanya mengandalkan asumsi. Kalau sudah dihitung, pengelola kawasan bisa mengatur langkah dengan lebih tenang.
Salah satu bagian paling penting dalam kajian ini adalah baseline (data acuan kondisi eksisting). Ini bukan bagian pelengkap. Justru dari baseline, kualitas seluruh analisis akan terlihat. Baseline dipakai untuk:
Kalau baseline lemah, hasil kajian terlihat rapi di laporan tetapi sulit dipakai saat pembahasan teknis. Sebaliknya, kalau baseline disusun dengan benar, hasil simulasi akan lebih mudah dipercaya dan lebih kuat saat dipakai untuk mengambil keputusan.
Untuk kawasan industri, baseline sebaiknya tidak hanya melihat area di dalam kawasan. Yang juga perlu diperhatikan adalah arah angin dominan, area downwind, dan titik reseptor sensitif di sekitar kawasan.
Untuk kajian di level kawasan, inventarisasi emisi adalah pekerjaan inti. Banyak kawasan sudah punya data tenant, tetapi masih terpisah-pisah. Dari sisi administrasi mungkin cukup, tetapi untuk membaca risiko kawasan secara utuh, data seperti ini belum banyak membantu.
Yang dibutuhkan adalah Inventarisasi Emisi (IE) kawasan yang menyatukan data seluruh tenant dan fasilitas pendukung menjadi satu gambaran beban emisi kawasan. Umumnya mencakup jumlah tenant aktif, jumlah dan jenis cerobong/sumber emisi, fasilitas pendukung yang menghasilkan emisi, rencana pengembangan berdasarkan dokumen terbaru, serta status persetujuan teknis emisi tenant.
Dari data ini, pengelola kawasan bisa mulai melihat pola yang sebelumnya tidak terlihat: zona mana yang paling padat sumber emisi, sumber mana yang paling dominan, dan skenario pengembangan mana yang perlu diawasi lebih ketat.
Setelah inventarisasi emisi dan pemodelan dilakukan, hasil konsentrasi perlu dibandingkan dengan baku mutu udara ambien nasional. Tahap ini yang membuat kajian benar-benar berguna, karena keputusan pengelolaan jadi berbasis data, bukan perkiraan.
Dalam praktiknya, analisis sering difokuskan pada parameter kunci dan parameter primer seperti partikulat, NOx atau SO₂, lalu parameter sekunder seperti PM2,5, O₃, atau NMHC, dengan pendekatan yang disesuaikan dengan ketersediaan data pemantauan (manual berkala maupun data kontinu/AQMS untuk validasi baseline).
Perlu bantuan analisa risikonya? Diskusi dengan tenaga ahli di sini!
Jasa Kajian Daya Dukung Atmosfer dibutuhkan saat keputusan pengembangan kawasan tidak bisa lagi hanya mengandalkan data per tenant. Pengelola kawasan perlu melihat udara sebagai satu sistem: ada beban emisi eksisting, ada rencana pengembangan, ada titik sensitif yang harus dijaga, dan ada batas mutu yang tidak boleh dilampaui.
Kalau baseline, inventarisasi emisi, parameter kunci, dan skenario pemodelan disusun rapi sejak awal, hasil kajian akan jauh lebih berguna sebagai dasar untuk mengatur langkah kawasan ke depan dengan lebih aman dan terarah.
Kantor Operasional:
Jakarta:
Office 8 – Senopati
Jl. Senopati Jl. Jenderal Sudirman No. 8B, SCBD,
Kebayoran Baru, South Jakarta City, Jakarta 12190
Surabaya:
Office 2 – Urban Office – Merr
Jl. Dr. Ir. H. Soekarno No.470 RT 02 RW 09, Kedung Baruk,
Kec. Rungkut, Surabaya, Jawa Timur 60298
Jam Kerja: 08.00 – 16.00 WIB (Senin sd Jumat)
Email : lensa@lensalingkungan.com